Nama: Helma Hilliyati
Kelas : XI IPA 4
Tugas PKN
“Kekuatan doa”
Pengalaman ini saya alami pada saat saya duduk di
kelas 3 smp.
Pada saat itu saya menunggu hasil pengumuman hasil
rolling kelas. Saya berharharap saya bisa mendapat kelas unggulan . karena pada
saat saya duduk di kelas dua, saya mendapatkan kelas unggulan yaitu kelas 2B .
nama dan kelas murid-murid sudah dibacakan, 3A, 3B, 3C, saya menunggu dan
sedikit cemas.
Nama-nama teman sekelas saya ketika kelas dua sudah dibacakan
semua. Nama saya belum disebutkan. Ketika guru menyebutkan nama-nama murid yang
akan mendiami kelas 3E, saya termasuk didalamnya. Pada saat itu saya merasa
tidak punya teman karena saya sendiri dari kelas 2B. saya akui saya kurang
pandai hidup bersosial, dan cepat akrab dengan orang lain, saya tergolong anak
yang culun dan kutu buku. Saya juga termasuk anak yang tidak tahu menahu
tentang dunia luar, seperti entertainment luar negeri gadget terbaru, dan
lain-lain yang berhubungan dengan itu semua.
Hari pertama duduk di kelas 3, saya banyak melihat
jawah-wajah baru, saya berusaha duduk di depan. Dan kebetulan hanya bangku di
depan meja guru yang masih kosong. Saya berusaha duduk didepan agar tulisan di
papan tulis bisa dengan jelas saya lihat. Maklum, mata saya sudah rabun jauh
pada saat saya duduk di kelas 4 SD. Ada beberapa orang yang saya kenal
sebelumnya yaitu Woyo dan Yanti. Saya kenal mereka karena rumah kami satu
komplek, setiap pagi kami pergi bersama naik bis sekolah. Kelas baru, dan teman
baru. Saya berusaha berkenalan dengan teman-teman yang lain. Saya masih agak
malu untuk menyapa anak laki-laki. Saya merasa down sekali karena turun ke
kelas E tapi orang tua saya selalu memberikan semangat dan dorongan terlebih
saya di tahun ini akan menghadapi ujian nasional untuk kelulusan. Untuk itu
saya berusaha menjadi yang tebaik di kelas ini.
Hari demi hari, saya belajar dan menghabiskan waktu
bersama teman-teman. Ternyata kelas ini tidak seburuk apa yang saya bayangkan.
Memang sih, muka teman-teman saya ini asing bagi saya, dan kebanyakan anak
laki-lakinya jahil. Tapi kelas ini kelas yang menyenangkan kelas yang
kompetitif. Saya sangat menyukai kelas ini, entah karena apa yang memotivasi
saya saya merasa menjadi lebih bersemangat dalam kelas, lebih tertarik dengan
soal-soal yang diberikan oleh guru. Tidak seperti saya pada saat kelas 1 dan 2
kemaren.
Tapi tidak jarang saya di bully karena saya culun,
pelan-pelan saya merubah diri saya. Tetap sopan namun tidak terlihat culun dan
kuper, saya menambah teman, saya mengikuti ekskul, saya mengikuti
kegiatan-kegiatan positif dan menyenangkan di luar jam belajar. Dan saya merasa
kehadiran saya di kelas itu disenangi, saya dianggap oleh teman-teman.setelah
itu saya tidak di bully lagi, saya merasa senang.
Bulan-bulan mendekati ujian nasionalpun semakin
dekat. Tes demi tes kami jalani, sekolahpun juga ikut berupaya agar nilai ujian
kami bisa bagus dan semua murid lulus 100% dengan memberikan les tambahan
(bimbel) . lelah yang terasa sudah kami abaikan demi penentu berhasil tidaknya
3 tahun kami bersekolah ini. Saat ini yang ada di benak saya saya harus
berhasil lulus dan membanggakan orang tua saya. Orang tua saya sudah merasakan
bagaimana pahitnya kegagalan anaknya kedua adik saya pernah tidak naik kelas dan
saya, selama saya bersekolah. Orang tua saya selalu mendapat teguran dari guru
karena nilai saya yang jelek. Pada saat saya duduk di sekolah dasar kelas 5
orang tua saya di panggil karena nilai saya yang merosot, tapi Alhamdulillah
saya bias lulus SD dengan nilai yang lumayan bagus. Pada saat kelas 2 SMP orang
tua saya juga dipanggil, dengan kasus yang sama.
Hari pertama ujian saya mempersiapkan diri sesiap
mungkin, mulai dari pengetahuan, dan tidak lupa saya terus berdoa kepada Tuhan
agar selalu dimudahkan dalam berusaha. Banyak sekali godaan-godaan yang
menghampiri, contekan yang bersumber dari segala arah, kertas contekan yang
lalu lalang, tangan tangan yang melempar dan menyambut kertas itu. saya tidak
tahu siapa saja yang murni mengerjakan soal ujian itu. Tapi yang jelas saya
tidak ingin mengecewakan orang tua saya ! itu yang saya tekankan dalam batin
saya. Saya harus bias membuat ayah dan mama saya bangga atas usaha saya. Bukan
atas usaha orang lain.
Dan saya di bully lagi, saya dikatain sok pintar lah,
munafik lah, pembualan lah. Karena saya tidak mau menyontek dan memberikan contekan.
Tapi hanya ini yang bisa saya lakukan. Saya takut usaha saya dan ibadah saya
selama ini sia-sia. Dan kalaupun saya menyontek dan nilai saya bagus saya tidak
bisa membanggakannya saya pasti dihantui rasa bersalah dan mengecewakan orang
tua saya.
Hari terakhir ujian, setelah ujian saya selesai.
Saya melepaskan tempelan nomor ujian saya dari meja saya pindahkan ke papan
scanner saya. Dan saya mencoret-coret kertas itu, saya tulis nama sekolah yang
selanjutnya (SMA) , kelas, dan jurusan, serta cita-cita saya. Dan saya berdoa
dan mengelus-ngelus kertas itu. Melihat hal itu teman saya yang bernama Hafid,
mengejek saya dia bilang saya tidak pantas dan tidak akan pernah masuk ke sekolah
itu. Karena sekolah itu sekolah favorit di kota ini. Saya merasa sakit hati
sekali, dia mengejek saya sepeti itu tapi saya tidak bisa melawan, siapa tahu
kata-katanya benar suatu saat nanti. saya Cuma bisa terdiam dan bersedih. Saya
sudah bertekad apapun hasilnya itulah yang terbaik yang saya lakukan.
Hari berlalu, saya mengikuti tes di sekolah yang
akan menjadi tempat saya bersekolah. Saya sangat pesimis waktu itu, karena
memakai nilai rapot. Nilai rapot saya pas-pasan tapi masih bisa masuk persyataran
pertama. Saya liat yang bersaing banyak sekali dan dari sekolah-sekolah ternama
lainnya. Saya merasa rendah saya lihat pesaing saya wajah-wajah yang optimis
wajah-wajah pesaing yang tangguh. Saya pesimis lagi, tetapi orang tua saya
selalu memberikan semangat. Tes pertama saya lolos, ke dua lolos, dan akhirnya
tes ketiga, penentu dari tes-tes lain.
Saya menerima amplop putih yang bertuliskan nama dan
nomor urut perserta saya, saya bergetar, begitu juga dengan mama. Ayah menunggu
saya dirumah. Betapa terkejutnya saja dinyatakan lolos. Saya mengucap syukur
kepada Tuhan yang sebanyak-banyaknya. Mama saya terlihat senang dan terharu.
Sampainya di rumah saya memperlihatkan isi amplop putih itu kepada ayah. Ayah
menangis bahagia dan bangga. Itu membuat saya terharu. Hal kecil ini saja, bisa
membuat ayah dan mama terharu.
***
Kejadian ini nyata saya alami, dan hingga sekarang
saya sudah bersekolah di SMA 5 Balikpapan sampai hari ini. Terimakasih Tuhan,
Kau selalu mendengarkan do’a ku. Terimakasih mama, ayah, selalu memberikan
dorongan dan semangat. Terimakasih teman-teman berkat kalian saya bisa sampai
sekarang.
Tetapi perjuangan saya belum selesai sampai disini.
Yang saya ingin sampaikan dari cerita saya ini adalah “Percayalah pada
kemampuan dirimu sendiri, berusaha dan berdo’a” . Semoga saja, kehidupan saya kedepannya lebih
baik. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar