Halaman

Sabtu, 09 Juni 2012

nostal (hanya share)


Nama: Helma Hilliyati
Kelas : XI IPA 4
Tugas PKN
                                                            “Kekuatan doa”
Pengalaman ini saya alami pada saat saya duduk di kelas 3 smp.
Pada saat itu saya menunggu hasil pengumuman hasil rolling kelas. Saya berharharap saya bisa mendapat kelas unggulan . karena pada saat saya duduk di kelas dua, saya mendapatkan kelas unggulan yaitu kelas 2B . nama dan kelas murid-murid sudah dibacakan, 3A, 3B, 3C, saya menunggu dan sedikit cemas. 

Nama-nama teman sekelas saya ketika kelas dua sudah dibacakan semua. Nama saya belum disebutkan. Ketika guru menyebutkan nama-nama murid yang akan mendiami kelas 3E, saya termasuk didalamnya. Pada saat itu saya merasa tidak punya teman karena saya sendiri dari kelas 2B. saya akui saya kurang pandai hidup bersosial, dan cepat akrab dengan orang lain, saya tergolong anak yang culun dan kutu buku. Saya juga termasuk anak yang tidak tahu menahu tentang dunia luar, seperti entertainment luar negeri gadget terbaru, dan lain-lain yang berhubungan dengan itu semua. 

Hari pertama duduk di kelas 3, saya banyak melihat jawah-wajah baru, saya berusaha duduk di depan. Dan kebetulan hanya bangku di depan meja guru yang masih kosong. Saya berusaha duduk didepan agar tulisan di papan tulis bisa dengan jelas saya lihat. Maklum, mata saya sudah rabun jauh pada saat saya duduk di kelas 4 SD. Ada beberapa orang yang saya kenal sebelumnya yaitu Woyo dan Yanti. Saya kenal mereka karena rumah kami satu komplek, setiap pagi kami pergi bersama naik bis sekolah. Kelas baru, dan teman baru. Saya berusaha berkenalan dengan teman-teman yang lain. Saya masih agak malu untuk menyapa anak laki-laki. Saya merasa down sekali karena turun ke kelas E tapi orang tua saya selalu memberikan semangat dan dorongan terlebih saya di tahun ini akan menghadapi ujian nasional untuk kelulusan. Untuk itu saya berusaha menjadi yang tebaik di kelas ini.

Hari demi hari, saya belajar dan menghabiskan waktu bersama teman-teman. Ternyata kelas ini tidak seburuk apa yang saya bayangkan. Memang sih, muka teman-teman saya ini asing bagi saya, dan kebanyakan anak laki-lakinya jahil. Tapi kelas ini kelas yang menyenangkan kelas yang kompetitif. Saya sangat menyukai kelas ini, entah karena apa yang memotivasi saya saya merasa menjadi lebih bersemangat dalam kelas, lebih tertarik dengan soal-soal yang diberikan oleh guru. Tidak seperti saya pada saat kelas 1 dan 2 kemaren.

Tapi tidak jarang saya di bully karena saya culun, pelan-pelan saya merubah diri saya. Tetap sopan namun tidak terlihat culun dan kuper, saya menambah teman, saya mengikuti ekskul, saya mengikuti kegiatan-kegiatan positif dan menyenangkan di luar jam belajar. Dan saya merasa kehadiran saya di kelas itu disenangi, saya dianggap oleh teman-teman.setelah itu saya tidak di bully lagi, saya merasa senang.
Bulan-bulan mendekati ujian nasionalpun semakin dekat. Tes demi tes kami jalani, sekolahpun juga ikut berupaya agar nilai ujian kami bisa bagus dan semua murid lulus 100% dengan memberikan les tambahan (bimbel) . lelah yang terasa sudah kami abaikan demi penentu berhasil tidaknya 3 tahun kami bersekolah ini. Saat ini yang ada di benak saya saya harus berhasil lulus dan membanggakan orang tua saya. Orang tua saya sudah merasakan bagaimana pahitnya kegagalan anaknya kedua adik saya pernah tidak naik kelas dan saya, selama saya bersekolah. Orang tua saya selalu mendapat teguran dari guru karena nilai saya yang jelek. Pada saat saya duduk di sekolah dasar kelas 5 orang tua saya di panggil karena nilai saya yang merosot, tapi Alhamdulillah saya bias lulus SD dengan nilai yang lumayan bagus. Pada saat kelas 2 SMP orang tua saya juga dipanggil, dengan kasus yang sama.

Hari pertama ujian saya mempersiapkan diri sesiap mungkin, mulai dari pengetahuan, dan tidak lupa saya terus berdoa kepada Tuhan agar selalu dimudahkan dalam berusaha. Banyak sekali godaan-godaan yang menghampiri, contekan yang bersumber dari segala arah, kertas contekan yang lalu lalang, tangan tangan yang melempar dan menyambut kertas itu. saya tidak tahu siapa saja yang murni mengerjakan soal ujian itu. Tapi yang jelas saya tidak ingin mengecewakan orang tua saya ! itu yang saya tekankan dalam batin saya. Saya harus bias membuat ayah dan mama saya bangga atas usaha saya. Bukan atas usaha orang lain.

Dan saya di bully lagi, saya dikatain sok pintar lah, munafik lah, pembualan lah. Karena saya tidak mau menyontek dan memberikan contekan. Tapi hanya ini yang bisa saya lakukan. Saya takut usaha saya dan ibadah saya selama ini sia-sia. Dan kalaupun saya menyontek dan nilai saya bagus saya tidak bisa membanggakannya saya pasti dihantui rasa bersalah dan mengecewakan orang tua saya.
Hari terakhir ujian, setelah ujian saya selesai. Saya melepaskan tempelan nomor ujian saya dari meja saya pindahkan ke papan scanner saya. Dan saya mencoret-coret kertas itu, saya tulis nama sekolah yang selanjutnya (SMA) , kelas, dan jurusan, serta cita-cita saya. Dan saya berdoa dan mengelus-ngelus kertas itu. Melihat hal itu teman saya yang bernama Hafid, mengejek saya dia bilang saya tidak pantas dan tidak akan pernah masuk ke sekolah itu. Karena sekolah itu sekolah favorit di kota ini. Saya merasa sakit hati sekali, dia mengejek saya sepeti itu tapi saya tidak bisa melawan, siapa tahu kata-katanya benar suatu saat nanti. saya Cuma bisa terdiam dan bersedih. Saya sudah bertekad apapun hasilnya itulah yang terbaik yang saya lakukan.

Hari berlalu, saya mengikuti tes di sekolah yang akan menjadi tempat saya bersekolah. Saya sangat pesimis waktu itu, karena memakai nilai rapot. Nilai rapot saya pas-pasan tapi masih bisa masuk persyataran pertama. Saya liat yang bersaing banyak sekali dan dari sekolah-sekolah ternama lainnya. Saya merasa rendah saya lihat pesaing saya wajah-wajah yang optimis wajah-wajah pesaing yang tangguh. Saya pesimis lagi, tetapi orang tua saya selalu memberikan semangat. Tes pertama saya lolos, ke dua lolos, dan akhirnya tes ketiga, penentu dari tes-tes lain.

Saya menerima amplop putih yang bertuliskan nama dan nomor urut perserta saya, saya bergetar, begitu juga dengan mama. Ayah menunggu saya dirumah. Betapa terkejutnya saja dinyatakan lolos. Saya mengucap syukur kepada Tuhan yang sebanyak-banyaknya. Mama saya terlihat senang dan terharu. Sampainya di rumah saya memperlihatkan isi amplop putih itu kepada ayah. Ayah menangis bahagia dan bangga. Itu membuat saya terharu. Hal kecil ini saja, bisa membuat ayah dan mama terharu.
                                                                        ***

Kejadian ini nyata saya alami, dan hingga sekarang saya sudah bersekolah di SMA 5 Balikpapan sampai hari ini. Terimakasih Tuhan, Kau selalu mendengarkan do’a ku. Terimakasih mama, ayah, selalu memberikan dorongan dan semangat. Terimakasih teman-teman berkat kalian saya bisa sampai sekarang.
Tetapi perjuangan saya belum selesai sampai disini. Yang saya ingin sampaikan dari cerita saya ini adalah “Percayalah pada kemampuan dirimu sendiri, berusaha dan berdo’a” .  Semoga saja, kehidupan saya kedepannya lebih baik. Amin.